Langkah Instalasi
Pada instalasi aplikasi QGIS ini, versi yang digunakan adalah versi terbaru dari aplikasi QGIS, yaitu versi 2.14. Untuk mendapatkan installer aplikasi ini dapat diunduh di http://www.qgis.org/en/site/forusers/download.html. Aplikasi QGIS tersedia untuk platform Windows, MacOS X, Linux dan Android. Unduhlah sesuai dengan platform masing-masing. Dalam hal ini, kami memilih untuk mengunduh installer QGIS untuk Windows (64-bit) yang sesuai dengan platform yang kami gunakan saat ini.
Berikut merupakan langkah instalasi aplikasi QGIS :

  Pilih installer QGIS yang telah diunduh sebelumnya. Nama default dari installer ini adalah QGIS-OSGeo4W-2.14.1-1-Setup-x86_64.exe.


Setup Wizard pada installer QGIS ini akan muncul. Kemudian klik tombol Next> untuk melanjutkan proses instalasi.


Setelah itu, License Agreement muncul. Kemudian kliklah tombol I Agree untuk melanjutkan proses instalasi.


Kemudian pilihlah lokasi untuk instalasi aplikasi QGIS. Disini kami memilih lokasi default untuk melakukan instalasi pada QGIS, yaitu di C:\Program Files\QGIS Essen. Jika ingin memilih lokasi lain untuk instalasi ini, maka tinggal klik saja tombol Browse... yang terletak disebelah Destination Folder. Klik tombol Next> jika sudah selesai menentukan folder destinasinya.


Pilihlah komponen-komponen dalam aplikasi QGIS yang akan diinstalasi. Untuk defaultnya hanya QGIS saja yang tercentang dan tidak dapat diubah. Jika dibutuhkan, maka dapat dicentang 3 komponen lainnya yang tersedia. Namun untuk instalasi ini kami merasa tidak membutuhkan ketiga komponen tersebut dan memilih untuk tidak ikut menginstalasi 3 komponen lainnya yang tersedia. Jika sudah selesai, kliklah tombol Install.


Proses instalasi akan berjalan. Tunggulah sampai proses instalasi selesai.


Proses instalasi sudah selesai. Kliklah tombol Finish untuk menyelesaikan proses instalasi.


Setelah proses instalasi selsai maka akan muncul 3 icon baru di desktop yang diperoleh dari instalasi aplikasi QGIS, yaitu GRASS GIS 7.0.3, OSGeo4W Shell dan folder yang bernama QGIS Essen.


Kemudian masuklah ke folder QGIS Essen dan kliklah QGIS Desktop 2.14.1 with GRASS 7.0.3 untuk membuka aplikasi QGIS yang sudah terinstall.


Tunggu aplikasi sampai terbuka.


Aplikasi QGIS siap untuk digunakan.










PELAKSANAAN SALURAN DISTRIBUSI PADA PT. SINAR SOSRO








Oleh
Salpiana Sitepu
2012100262


JURUSAN SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JAKARTA
2013






BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Tradisi minum teh berasal dari daratan Cina telah menyebar ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Masyarakat Indonesia sangat meyukai teh dan lebih nikmat lagi jika ditambahkan dengan gula. Semua golongan dapat mengkonsumsi teh karena murah, cocok untuk kapan saja, dimana saja dan dapat disajikan sesuai dengan keinginan.
Hasil survei oleh berbagai lembaga riset antara lain AC Nielsen, MARS dan SWA, sejak tahun 1999 hingga kini menunjukkan, tingkat penetrasi pasar untuk teh mencapai lebih dari 95 persen. Itu artinya, minuman teh nyaris telah atau pernah dikonsumsi oleh setiap anggota masyarakat. Bahkan riset dari MARS di lima kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, dan Semarang, menunjukkan, penetrasi pasar oleh minuman teh lebih tinggi dari minuman kopi yang hanya dikonsumsi oleh 79 persen penduduk Indonesia khususnya di perkotaan. Meski belum ada data atau statistik yang pasti, namun persentase terbesar dari penjualan teh masih dipegang oleh teh bubuk, lalu disusul oleh teh dalam kemasan botol dan selanjutnya teh dalam kemasan lain seperti teh celup, teh instan,dan lain-lain. Membicarakan produk teh dalam kemasan botol, selama hampir satu dekade hanya ada satu nama yang melekat, yaitu Sosro. Kontribusi terbesar bagi pemasukan PT. Sinar Sosro berasal dari penjualan teh botol. Sulit mendapatkan statistik yang pasti, namun dengan fakta di lapangan di mana hampir setiap toko semuanya menjual produk teh botol, diperkirakan lebih dari 90 persen pemasukan Sosro berasal dari teh botol. Distribusi Sosro mencakup hampir seluruh wilayah nasional mulai dari Batam, Jabotabek, hingga Kalimantan dan Sulawesi. Bahkan teh dalam kemasan botol Sosro diekspor ke Australia, Vietnam, Brunei Darussalam dan Amerika Serikat.
Nama Teh Botol Sosro sudah tidak asing lagi didengar. SOSRO merupakan pelopor teh siap minum dalam kemasan pertama di Indonesia dan namanya diambil dari nama keluarga pendiri yakni SOSRODJOJO. Peran PT. Sinar Sosro menyediakan minuman teh dalam kemasan dengan kualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pecinta teh. Lebih dari 70 tahun PT. Sinar Sosro bertahan dan mengalami perubahan. Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas mengenai Teh Botol Sosro (profil perusahaan, industri hulu dan hilir, produk utama dan produk pesaing).

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar  belakang yang telah dijelaskan secara singkat diatas  maka dapat dirumuskan masalah :  Bagaimanakah pelaksanaan saluran distribusi PT. Sinar Sosro?

C.     Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai adalah :
1.    Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan saluran distribusi dalam pada PT.Sinar Sosro.
2.    Untuk memperoleh gambaran nyata atau langsung mengenai faktor-faktor apasaja yang mempengaruhi pemilihan saluran pada PT. Sinar Sosro.



















BAB II
KERANGKA TEORITIS

A.   Pengertian Pemasaran
Dengan semakin pesatnya perkembangan perekonomian dan teknologi di masasekarang ini yang diikuti dengan semakin beragamnya pola kehidupan masyarakat,maka pemasaran mempunyai arti yang luas. Pemasaran merupakan sebuah faktorpenting dalam suatu siklus yang bermula dan berakhir dengan kebutuhan konsumen.Pemasaran harus dapat harus dapat menafsirkan kebutuhan-kebutuhan konsumen danmengkombinasikannya dengan data pasar seperti: lokasi konsumen, jumlah dankesukaan mereka.
Agar lebih jelas untuk memperoleh gambaran perusahaan mengenai pemasaran,berikut ini pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli pemasaran.
1.    Pemasaran adalah proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilaidengan pihak lain (kotler, 2005, hal.10).
2.    Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yangditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, danmendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepadapembeli yang ada maupun pembeli potensial (Swastha, 2005).
Dari definisi di atas kita dapat meninjau pemasaran sebagai suatu sistem dari kegiatan - kegiatan yang saling berhubungan, ditunjukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa pada kelompok pembeli.
Kegiatan pemasaran adalah kegiatan yang saling berhubungan dalam suatusistem. Kegiatan-kegiatan itu beroperasi dalam suatu lingkungan yang selaluberkembang. Untuk itu kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat membantu dalampencapaian tujuan perusahaan serta dapat menyesuaikan dengan perkembanganlingkungan.
1.    Manajemen Pemasaran
Tugas pemasaran adalah memilih dan melaksanakan kegiatan pemasaranyang dapat membantu mencapai tujuan perusahaan serta dapat membantumencapai tujuan perusahaan serta dapat menyesuaikan diri pada perubahanlingkungan. Kegiatan pemasaran ini haruslah dikoordinasi dan dikelola denganbaik, maka itu dikenal istilah manajemen pemasaran.
Definisi manajemen pemasaran yang dikemukakan oleh Kotler adalahproses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi, danpenyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptkan pertukaran yangmemenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.
Jadi manajemen pemasaran dirumuskan sebagai suatu proses manajemenyang meliputi penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatanpemasaran yang dilakukan perusahaan. Kegiatan ini bertujuan menimbulkanpertukaran yang diinginkan, baik yang berupa barang dan jasa, atau benda-bendalain yang dapat memenuhi kebutuhan. Penentuan produk, harga, promosi dan tempat untuk mencapai tanggapan yang efektif disesuaikan dengan sikap danperilaku konsumen.
2.    Bauran Pemasaran
Setiap perusahaan selalu berusaha untuk dapat tetap hidup, mengembangkan dan mampu bersaing. Maka tiap perusahaan selalu menetapkan dan menerapkan strategi dan cara pelaksanaan kegiatan pemasarannya. Kebijakan pemasaran tertentu sejalan dengan konsep pemasaran yang menekankan pemberian pelayanan yang memuaskan kepada konsumen melalui kegiatan dan strategi pemasaran terpadu dan memungkinkan diperoleh keuntungan dalam jangka panjang serta penentuan posisi produk yang direncanakan maupun market share.
Salah satu unsur dalam strategi pemasaran adalah bauran pemasaran yang dijalankan perusahaan berkaitan dengan bagaimana perusahaan menjanjikan produk pada segmen pasar tertentu yang merupakan sasarannya. Marketing mix merupakan kombinasi variabel yang merupakan inti dari sistem pemasaran, yangdapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksi para pembeliatau konsumen. Jadi marketing mix terdiri dari himpunan variabel yang dapat dikendalikan dan digunakan oleh perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan dalam pasar sasaran.
Selanjutnya akan dibahas pengertian bauran pemasaran (marketing mix) menurut para ahli bidang pemasaran.
1.    Bauran pemasaran adalah  kombinasi strategi dari empat variabel yang dipakai perusahaan sebagai sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang sering berkaitan dengan sangat kuat dan saling mendukung antara variabel satu dengan variabel yang lainnya.
2.    Istilah yang digunakan untuk menjelaskan kombinasi dari empat besar pembentuk inti dari sistem pemasaran suatu organisasi.
Variabel-variabel ini merupakan inti dari sistem pemasaran yang terdiri dari produk, harga, saluran distribusi, dan promosi saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Keempat unsur dalam bauran pemasaran tersebut harus dilaksanakan seiring karena satu sama lain mendukung dan merupakan inti dari kegiatan perusahaan. Jadi bauran pemasaran terdiri dari segala sesuatu yang dapat perusahaan lakukan untuk mempengaruhi permintaan akan produknya. Kegiatan ini perlu dikoordinir agar perusahaan dapat melakukan tugas pemasarannya kombinasi yang terbaik saja, tetapi harus mengkoordinir berbagai macam elemen dari marketing mix tersebut untuk melaksanakan program pemasaran secara efektif.
Bauran  pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan  perusahaan untuk terus menerus mencari tujuan pemasarnya dipasar sasaran. Variabel-variabel dalam bauran pemasaran terdiri dari :
1.    Produk (product)
Produk adalah apa saja yang dapat ditawarkan kedalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsikan sehingga dapat memenuhi keinginan dan kebutuhanya. Dalam mengelola produk terdapat pula perencanaan dan pengembangan produk atau jasa yang baik untuk dipasarkan oleh perusahaan. Untuk itu perlu adanya suatu pedoman dalam mengubahproduk yang ada dalam suatu produk.
2.    Harga (price)
Harga merupakan atribut yang melekat pada keadaan produk karena dari hargainilah suatu produk dinilai secara kuantitatif dengan sejumlah uang yangsemestinya dibayarkan untuk sejumlah barang dan jasa.
3.    Promosi (promotion)
Promosi merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan manfaat dari produknya dan untuk menyakinkankonsumen sasaran agar membelinya. Promosi salah satu komponen yangdipakai untuk memberi tahu dan mempengaruhi pasar bagi produk perusahaan.
4.    Distribusi (place)
Pendistribusian diperlukan dalam kegiatan pemasaran supaya barang yangtelah diproduksi dapat sampai ketangan konsumen. Oleh karena itu, perluadanya pemilihan saluran distribusi yang baik. Adapun dalam penggunaanpenyalur distribusi seperti pedagang besar, pengecer dan agen. Untuk ituhubungan dan kerjasama yang baik dengan para penyalur dapat menjadi kuncikesuksesan dalam menjual produk.
B.     Pengertian Distribusi
Di dalam menjalankan perusahaan pemilihan saluran distribusi merupakan hal yang sangat penting sekali karena salah dalam saluran distribusi akan memperlambat atatau bahkan bisa menghambat usaha penyaluran produk dari produsen ke konsumen. Saluran distribusi (distribution channel) terkadang disebut saluran perdagangan (trade channel) atau saluran pemasaran (marketing channel).
Menurut Kotler saluran distribusi atau pemasaran adalah saluran pemasaran adalah beberapa organisasi yang saling bergantung dan terlibat dalam proses mengupayakan agar produk atau jasa tersedia untuk digunakan atau dikonsumsi.
Dari definisi tersebut dapat diketahui adanya beberapa unsur penting yaitu :
1.    Saluran merupakan sekelompok lembaga yang ada di antara berbagai lembaga yang mengadakan kerjasama untuk mencapai suatu tujuan.
2.    Karena anggota-anggota kelompok terdiri atas beberapa pedagang dan beberapa agen, maka ada sebagian yang ikut memperoleh nama dan sebagian yang lain tidak. Tidak perlu bagi tiap saluran untuk menggunakan sebuah agen, tetapi pada prinsipnya setiap saluran harus memiliki seorang pedagang.  Alasannya adalah bahwa hanya pedagang saja yang dianggap tepat sebagai  pemilik untuk memindahkan barang.  Dalam hal ini, distribusi fisik merupakan kegiatan yang penting.
3.    Tujuan dari saluran pemasaran adalah untuk mencapai pasar-pasar tertentu.  Jadi pasar merupakan tujuan akhir dari kegiatan saluran.
4.    Saluran melaksanakan dua kegiatan penting untuk mencapai tujuan, yaitu mengadakan penggolongan produk dan mendistribusikannya. Penggolongan produk menunjukkan jumlah dari berbagai keperluan produk yang dapat memberikan kepuasan kepada pasar.
C.   Saluran Distribusi Barang Konsumsi
Dalam penyaluran barang konsumsi yang ditunjukkan untuk pasar konsumen, terdapat lima macam saluran. Pada setiap saluran, produsen mempunyai alternatif yang sama untuk menggunakan lebih dari satu pedagang besar, sehingga barang-barang dapat mengalir dari satu pedagang besar kepada yang besar lainnya. Jadi, dalam hal ini terdapat dua jalur perdagangan besar.
1.    Produsen – Konsumen
Bentuk saluran distribusi yang pendek dan paling sederhana adalah saluran distribusi dari produsen kekonsumen, tanpa menggunakan perantara. Produsen dapat menjual barang yang dihasilkannya melalui pos atau langsung mendatangi  rumah konsumen (dari rumah ke rumah). Oleh karena itu saluran ini disebut sebagai saluran distribusi langsung.
2.      Produsen – Pengecer – Konsumen
Seperti hanya dengan jenis saluran yang pertama (produsen – konsumen),saluran ini juga disebut sebagai saluran distribusi langsung. Disini, pengecer besarlangsung melakukan pembelian pada produsen. Adapula beberapa produsen yangmendirikan toko pengecer sehingga dapat secara langsung melayani konsumen.Namun alternatif yang terakhir ini tidak umum dipakai.
3.      Produsen – Pedagang Besar – Pengecer – Konsumen
Saluran distribusi semacam ini banyak digunakan oleh produsen, dandinamakan saluran distribusi tradisional. Disini, produsen hanya melayanipenjualan dalam jumlah besar kepada pedagang besar saja, tidak menjual kepadapengecer. Pembelian oleh pengecer dilayani pedagang besar, dan pembeliankonsumen dilayani pengecer saja.
4.      Produsen – Agen – Pengecer – Konsumen
Disini, produsen memilih agen (agen penjualan atau agen pabrik) sebagaipenyalurnya. Ia menjalankan kegiatan perdagangan besar dalam saluran distribusiyang ada. Sasaran penjualan terutama ditunjukkan kepada para pengecer besar.
5.      Produsen – Agen – Pedagang Besar – Pengecer – Konsumen
Dalam saluran distribusi, produsen sering menggunakan agen sebagaiperantara untuk menyalurkan barang kepada pedagang besar yang kemudianmenjual kepada toko – toko kecil. Agen terlibat dalam saluran distribusi ini agenpenjualan.

















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Industri hulu Sosro sudah bagus karena Sosro memiliki perkebunan teh sendiri sehingga mempraktiskan supply chain. Akan lebih bagus lagi bila suplai gula diperoleh dari dalam negeri dengan pertimbangan kualitas gula dalam negeri sama dengan gula impor, sehingga dapat mengurangi jumlah impor gula di Indonesia.
2.      Distribusi pasar yang dimiliki Sosro sudah bagus. Dengan demikian sistem distribusi harus dipertahankan sebagai dasar yang kuat bagi Sosro dan memperbaiki kekurangan yang dimiliki, misalnya dengan memberi denda pada Dister yang mengembalikan botol kosong dalam keadaan pecah. Selain itu diharapkan Sosro dapat menjalin kerja sama atau partnership yang lebih baik lagi dengan distributor yang ada.
3.      Diharapkan Sosro lebih memperhatikan market yang ada dengan tidak hanya memperbesar jumlah penjualannya tetapi juga dilihat dari harga dan selera konsumen. Dan diharapkan pula Sosro bisa melihat pasar yang ada dengan segmentasi, target, dan positioning yang lebih kuat lagi.
B.   Saran
Dalam strategi pemasaran hendaknya produk yang dibuat oleh suatu perusahaan  harus selalu mengikuti selera konsumen dan perkembangan jaman, dan selalu up to date dalam mencari informasi dan peluang bisnis.  diharapkan para pengusaha dapat mempertahankan harga tanpa meninggalkan kualitas mutunya, dan jika bisa harga dapat diturunkan sehingga terjangkau kalangan ekonomi menengah ke bawah.





Daftar Pustaka








DAMPAK PERILAKU RELIGIUS DALAM PEMBENTUKAN ETIKA SISWA









Oleh :
Salpiana Sitepu
2012100262



JURUSAN SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER
JAKARTA
2013









BAB I
PENDAHULUAN

I.         Latar Belakang
Merebaknya isu-isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkoba, tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, merusak milik orang, merampas, menipu, mencari bocoran soal ujian, perjudian, pelacuran, pembunuhan, dan lain-lain sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana, karena sudah menjurus kepada tindak kriminal. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua dan para guru (pendidik), sebab pelaku-pelaku beserta korbannya adalah kaum remaja, terutama para pelajar dan mahasiswa.
Banyak orang berpandangan bahwa kondisi demikian diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikanlah yang sebenarnya paling besar memberi kontribusi terhadap situasi seperti ini. Masalah moral yang terjadi pada siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama namun juga menjadi tanggung jawab seluruh pendidik.
Apalagi jika komunitas suatu sekolah terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan ras. Berbagai konflik akan dengan mudah bermunculan. Jika kondisi semacam ini tidak di atasi maka akan timbul konflik-konflik yang lebih besar. Akibatnya masalah moral, etika akan terabaikan begitu saja.
Padahal tujuan dari pendidikan di Indonesia adalah membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Manusia yang mempunyai kepribadian, beretika, bermoral, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian tujuan pendidikan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya seperti yang disarikan dari UU No 20. tahun 2003, bab II, pasal 3, bahwa manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab belum terwujud.
Untuk itu perlu ditanamkan sikap jujur, saling menghargai, bertoleransi dalam diri setiap siswa, karena sikap ini mempunyai dampak luas bagi kehidupan orang lain dalam masyarakat dan negara. Dampak yang luas dan serius ini dapat dirasakan sejak Juli 1997 hingga sekarang. Krisis yang berkepanjangan tersebut tidak hanya krisis moneter dan ekonomi saja, tetapi sudah menjadi krisis multidimensi, yaitu menyentuh banyak bidang, termasuk krisis kepemimpinan, kepercayaan, dan moral. Sikap jujur, bertoleransi, berdisiplin akan menjadi budaya masyarakat bangsa apabila perilaku religius menjadi kebiasaan sehari-hari. Perilaku religius akan mendekatkan insan manusia terhadap Tuhannya sehingga dapat meningkatkan iman dan takwa.
II.        Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka permasalahan mendasar yang hendak ditelaah dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dapat dilakukan sebagai pendidik pada anak didiknya dalam membiasakan berperilaku religius?
2.      Dampak apa sajakah dari perilaku religius yang tampak dalam pembentukan etika siswa?
III.   Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk :
A.    Mendeskripsikan tindakan pendidik dalam menumbuhkan kebiasaan berperilaku religius.
B.     Mendeskripsikan dampak perilaku religisu dalam pembentukan etika siswa.


















BAB II
PEMBAHASAN
I.         Perilaku Religius
Perilaku religius merupakan perilaku yang dekat dengan hal-hal spiritual. Perilaku religius merupakan usaha manusia dalam mendekatkan dirinya dengan Tuhan sebagai penciptanya. Religiositas merupakan sikap batin seseorang berhadapan dengan realitas kehidupan luar dirinya misalnya hidup, mati, kelahiran, bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan sebaginya. Sebagai orang yang ber- Tuhan kekuatan itu diyakini sebagai kekuatan Tuhan. Kekuatan tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan hidup seseorang apabila ia mampu menemukan maknanya. Orang mampu menemukannya apabila ia berani merenung dan merefleksikannya.
Melalui refleksi pengalaman hidup memungkinkan seseorang menyadari memahami, dan menerima keterbatasan dirinya sehingga terbangun rasa syukur kepada Tuhan sang pemberi hidup, hormat kepada sesama dan lingkungan alam. Untuk dapat menumbuhkan nilai-nilai religius seperti ini tidaklah mudah.
Pembelajaran moral yang dapat dilakukan menggunakan model terintegrasi dan model di luar pengajaran. Hal ini memerlukan kerjasama yang baik antara guru sebagai tim pengajar dengan pihak-pihak luar yang terkait.
Nilai-nilai religiositas ini dapat diajarkan kepada siswa melalui beberapa kegiatan yang sifatnya religius. Kegiatan religius akan membawa siswa pada pembiasaan berperilaku religius. Perilaku religius akan menuntun siswa untuk bertindak sesuai moral dan etika.
Antara moral dan etika sebenarnya tidak sama. Moral adalah hal yang mengatakan bagaimana kita hidup. Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik.
Moral dan etika dapat dipupuk dengan kegiatan religius seperti yang sudah dilakukan di SDN 17, jakarta. Kegiatan religius yang dapat diajarkan kepada siswa di sekolah tersebut yang dapat dijadikan sebagai pembiasaan, diantaranya:
1.      Berdoa atau bersyukur,
2.      Melaksanakan kegiatan di mushola,
3.      Merayakan hari raya keagamaan sesuai dengan agamanya,
4.      mengadakan kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya.
Berdoa merupakan ungkapan syukur secara langsung kepada Tuhan. Ungkapan syukur dapat pula diwujudkan dalam relasi seseorang dengan sesama, yaitu dengan membangun persaudaraan tanpa dibatasi oleh suku, ras, dan golongan. Kerelaan memberikan ucapan selamat hari raya kepada teman yang tidak seiman merupakan bentuk-bentuk penghormatan kepada sesama yang dapat dikembangkan sejak anak usia sekolah dasar. Ungkapan syukur terhadap lingkungan alam misalnya menyiram tanaman, membuang sampah pada tempatnya, dan memperlakukan binatang dengan baik.
Berbagai kegiatan di mushola sekolah juga dapat dijadikan pembiasaan untuk menumbuhkan perilaku religius. Kegiatan tersebut di antaranya salat dzuhur berjamaah setiap hari, sebagai tempat untuk mengikuti kegiatan belajar baca tulis Al Quran, dan salat Jumat berjamaah. Pesan moral yang didapat dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk berperilaku sesuai moral dan etika.
Kegiatan lain yang dapat membentuk moral dan etika dari perilaku religius yaitu merayakan hari besar sesuai dengan agamanya. Untuk yang beragama Islam momen-momen hari raya Idul Adha, Isra Mikraj, Idul Fitri dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan iman dan takwa. Begitu juga bagi yang beragama Nasrani, perayaan Natal dan Paskah akan dapat dijadikan momen penting untuk menuntun siswa agar bermoral dan beretika.
Sekolah juga dapat menyelenggarakan kegiatan keagamaan lainnya diwaktu yang sama untuk agama yang berbeda, misalnya kegiatan pesantren kilat bagi yang beragama Islam dan kegiatan rohani lain bagi yang beragama Nasrani maupun Hindu. Kegiatan religius lainnya dapat juga ditumbuhkan melalui kegiatan berkemah. Kemah religius misalnya dengan menghadirkan dai cilik bagi yang beragama Islam dan mendatangkan buder bagi yang beragama Nasrani.
Dengan demikian akan tumbuh toleransi beragama, saling menghargai perbedaan, sehingga dapat terjalin hubungan yang harmonis, tentram dan damai. Siswa akan merasakan indahnya kebersamaan dalam perbedaan. Mereka akan merasa bahwa semua adalah saudara yang perlu dihormati, dihargai, dikasihi, dan disayangi seperti keluarga sendiri.
II.      Dampak Perilaku Religius dalam Menumbuhkan Etika
Pembiasaan berperilaku religius di sekolah ternyata mampu mengantarkan anak didik untuk berbuat yang sesuai dengan etika. Dampak dari pembiasaan perilaku religius tersebut berpengaruh pada tiga hal yaitu:
1.     Pikiran, siswa mulai belajar berpikir positif (positif thinking). Hal ini dapat dilihat dari perilaku mereka untuk selalu mau mengakui kesalahan sendiri dan mau memaafkan orang lain. Siswa juga mulai menghilangkan prasangka buruk terhadap orang lain. Mereka selalu terbuka dan mau bekerjasama dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan agama, suku, dan ras.
2.     Ucapan, perilaku yang sesuai dengan etika adalah tutur kata siswa yang sopan, misalnya mengucapkan salam kepada guru atau tamu yang datang, mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu, meminta maaf jika melakukan kesalahan, berkata jujur, dan sebagainya. Hal sekecil ini jika dibiasakan sejak kecil akan menumbuhkan sikap positif. Sikap tersebut misalnya menghargai pendapat orang lain, jujur dalam bertutur kata dan bertingkah laku.
3.     Tingkah laku, tingkah laku yang terbentuk dari perilaku religius tentunya tingkah laku yang benar, yang sesuai dengan etika. Tingkah laku tersebut di antaranya empati, hormat, kasih sayang, dan kebersamaan.
Jika siswa sudah terbiasa hidup dalam lingkungan yang penuh dengan kebiasaan religius, kebiasaan-kebiasaan itu pun akan melekat dalam dirinya dan diterapkan di mana pun mereka berada. Begitu juga sikapnya dalam berucap, berpikir dan bertingkah laku akan selalu didasarkan norma agama, moral dan etika yang berlaku. Jika hal ini diterapkan di semua sekolah niscaya akan terbentuk generasi-generasi muda yang handal, bermoral, dan beretika.












BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari pembahasan tentang menumbuhkan etika melalui perilaku religius di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1.     Kegiatan religius di sekolah seperti:
·      Berdoa atau bersyukur,
·      Melaksanakan kegiatan di mushola,
·      Merayakan hari raya keagamaan sesuai dengan agamanya,
·      mengadakan kegiatan keagamaan sesuai dengan agamanya akan membiasakan perilaku religius. Perilaku religius tersebut dapat menuntun siswa untuk bertingkah laku sesuai etika.
2.     Dampak dari pembiasaan perilaku religius dalam menumbuhkan etika yaitu terbentuknya sikap siswa dalam berpikir, berucap, dan bertingkah laku yang sesuai dengan etika.

B.      Saran
Untuk membiasakan siswa berperilaku religius dan bertingkah laku sesuai dengan etika tidak mudah. Dalam hal ini diperlukan usaha yang kontinu, dan diperlukan kerjasama antara guru atau pendidik, orang tua, dan masyarakat.














Daftar Pustaka